Ada anggapan bahwa tingkat kehadiran tamu asing di Peringatan ke-60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) sangat rendah. Hal ini dibantah oleh pihak Kementerian Luar Negeri.
"Banyak sekali yang dateng kok. Sekarang jumlah kepala negara, raja, perdana menteri, sudah cukukp baik ya," ujar Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Yuri Thamrin dalam Forum berjudul Asia and Africa: Where Are We Now and Where We Are Heading, di Hotel Borobudur, di Jakarta, Jumat (10/4/2015).
"Sudah hampir 30 (yang memastikan kehadiran), antara 27-30 (kepala negara/pemerintahan). Itu perdana menteri, presiden, raja, wakil parlemen, saya kira respectable," ungkapnya.
Yuri juga menyampaikan bahwa benua Afrika itu kesempatan buat banyak negara, termasuk Indonesia. Kalau negara lain bisa berdagang dengan Afrika pada tataran USD70 miliar-USD200 miliar, sementara Indonesia masih USD11 miliar, itu tentu kesempatan besar.
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Inggris tersebut menyebutkan bahwa dari sisi GDP, ternyata banyak negara Afrika yang lebih besar. Ada beberapa beberapa negara seperti Afrika Selatan (Afsel) dan Botswana dan sebagainya, yang memiliki GGP antara USD3.000 hingga 5.000.
"Jadi saya pikir Afrika itu oportunity, peluang buat kita. Targetnya kita harus lebih meningkatkan perdagangan investasi. Saya mendengar kabar bahwa perusahaan kita, mie instant di Nigeria, sudah mencapai pemasaran USD1 miliar," jelasnya.
Menurut Yuri, pemerintah harus mendorong financing mechanism, kredit. Dengan mekanisme pembiayaan, semuanya akan lebih visible.
"Jadi poinnya adalah kita harus merubah mindset kita. Look again, dan Afrika itu sebuah opportunity. Jangan dituggu, rebut sekarang!" tegasnya.
FJR






